Kamis, 08 Desember 2016

tentang kami


          Pendidikan di Indonesia merupakan salah satu elemen penting dalam kemajuan bangsa, bisa dikatakan menjadi salah satu pilar utama dalam memajukan dan mengembangkan potensi bangsa. Dari segi tingkat kelompok belajar, secara umum di Indonesia pendidikan di bagi menjadi pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), pendidikan Dasar (SD), Pendidikan Menengah (SMP) dan pendidikan Umum (SMA). Kemudian bila itu dirasa masih kurang dapat ditambahkan perguruan tinggi dan biasanya untuk memenuhi kebutuhan di era modern ini para orang tua dalam menyiapkan putra-putri nya memasuki dunia pendidikan bisa di ikutkan dalam pendidikan anak usia dini (PAUD).
          Dengan demikian pendidikan bisa menentukan status masyarakat yang disandang seseorang pada saat terjun langsung ke masyarakat. Di era yang penuh kemajuan saat ini, kebutuhan akan pendidikan sangatlah menjadi tuntutan orang saat ini. Tempat berlangsungnya pendidikan saat ini juga meenjadi tolak ukur pandangan masyarakat tentang pribadi, strata, dan tingkat kecerdasan seseorang.
         
Maka dari itu orang akan berlomba-lomba memasukan anak-anak nya di sekolah yang memang sudah mempunyai grade atau akreditasi yang tinggi demi mengejar cita-cita sang buah hati. Ketika pendidikan dalam sekolah dirasa sangat kurang dalam hal pemahaman materi, penguasaan teori yang disampaikan guru atau mungkin ada beberapa masalah dengan teman sekolah yang menjadi hambatan bagi anak dalam menguasai materi, di tambah peran orang tua yang seharusnya dapat menjadi guru terbaik pada saat anak dirumah kini malah para orang tua fokus mencari biaya untuk  pendidikan, walaupun hal demikian tidak ada salahnya. Maka dari itu, para orang tua dalam menjawab kekawatiran tersebut kebanyakan menambahkan jam belajar bagi siswa, atau bisa membagi tanggung jawab orang tua dalam memberikan pendampingan belajar kepada orang lain, maksudnya orang tua memberikan guru privat belajar, sehingga anak bisa mendalami materi pelajaran sekolah dan para orang tua tidak perlu kawatir untuk tetap bisa mencari biaya.

Dalam kasus yang demikian, Alykas Privat Course telah hadir dan memulai mengepakan sayapnya untuk membantu, menjawab kebutuhan akan pendidikan dari sang buah hati para orang tua. Kami merupakan lembaga pendidikan dengan prinsip membantu pemahaman materi pelajaran yang dirasa kurang bagi anak. Tingkat pendidikan yang dapat kami bantu adalah TK/PAUD, SD, SMP dan SMA. Jadwal pembelajaran kami sangat fleksibel, bisa menyesuaikan kebutuhan dari anak didik. Kami mampu memberikan pendampingan belajar anak secara personal atau kelompok baik dirumah ataupun ditempat belajar yang kami sediakan (perumahan bangau putih Blok E4) atau JL. Bung tomo, Ds. Ringinpitu, Kec. Kedungwaru, Kab. Tulungagung. Untuk waktu belajar juga sangat fleksibel bisa disesuaikan menurut permintaan dari anak didik. Ditambah dengan tentor kami yang berkualitas yakni lulusan dari universitas negeri malang. Kami juga membantu anak dalam hal membaca Iqro’ dan AL-QURAN bagi yang berminat.

       Jadi, untuk para orang tua yang memiliki putra-putri yang masih memerlukan pendampingan belajar bagi putra putri nya, tidak ada alasan untuk ragu, atau jangan dimarahi sang anak apabila prestasi sang buah hati kurang membanggakan, karena itu bisa jadi karena beberapa faktor.

Sabtu, 03 Desember 2016

Daftar Artikel Bebas

Silahkan Klik judul salah satu untuk membaca artikel lengkap.

1. Negara Dengan Pendidikan Terbaik Di Dunia

2. Orang Tua Dalam Memilih Guru Privat Untuk Anak

3. Jenis - jenis Metode Pembelajaran

4. Hakikat Belajar dan Pembelajaran

5. Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

6. Mengenal Programmable Logic Control (PLC)

Mengenal Programable Logic Control (PLC)

Mengenal Programmable Logic Control (PLC)

            Dari segi bahasa Programmable Logic Control merupakan salah satu program yang mengatur logika kita untuk menjalankan sebuah sistem. PLC adalah singkatan dari Programmable Logic Controller atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah pengendali logika yang bisa diprogram. Karena logika kontrol dilakukan oleh program maka kebutuhan perangkat pendukung dan instalasinya menjadi lebih sederhana. Pembahasan artikel ini fokus pada pemrograman PLC Omron menggunakan software CX Programmer 9.1.

1.      Komponen PLC
Komponen utama PLC adalah: Input, Central Processing Unit disingkat CPU, dan Output. Input pada PLC bisa berupa alat untuk mengoperasikan sistem (saklar, tombol) dan sensor. Output pada PLC adalah sistem yang dikontrol, bisa berupa motor, kontaktor, lampu dan sebagainya.
Penempatan terminal Input dan terminal Output pada PLC merk apapun selalu terpisah jauh (berseberangan). Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah merangkai dan memperkecil terjadinya kesalahan merangkai. Contoh jika terminal input diletakkan di bagian atas PLC, maka terminal output diletakkan di bagian bawah PLC tersebut. Ada juga merk PLC yang input outputnya terpisah, yakni ditempatkan pada modul tambahan khusus input dan modul tambahan yang lain untuk output. Contoh PLC yang memisahkan antara modul input dan modul output adalah PLC Siemens S-300.
Pada semua jenis PLC terminal input berada di atas, sedangkan terminal output berada di bagian bawah. Pemisahan letak terminal ini bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam merangkai dan menganalisis rangkaian jika terjadi trouble hardware pada sistem.

2.      Rangkaian Input – Output
PLC OMRON CPM2A-20CDR-A memiliki terminal input sebanyak 12 buah, yakni input 00.00 s.d input 00.11 (chanal 0). Input Device adalah komponen kendali yang dihubungkan ke terminal input PLC. Input device ini terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok input manual (tekan) dan kelompok input otomatis. Contoh Input Device manual : push button, saklar, limit switch Dll. Contoh input otomatis: sensor, infra red, photo dioda.  Input Device berguna untuk mengoperasikan/memberikan perintah sistem kendali (PLC) yang akan dibuat.


Cara pengkabelan Input Device
·         Kabel negatif 24 V-DC dihubungkan ke termanl Com – input
·         Terminal Positif power supply 24 Volt dihubungkan ke salah satu kaki pertama Input Device
·         Terminal Input 00, 01 ... 11 dihubungkan ka kaki kedua Input Device

Catatan:
·        Bahwa power supply 24 Volt bisa menggunakan power supply eksternal, yakni power supply luar PLC, tetapi bisa juga menggunakan power supply internal yang sudah tersedia di dalam PLC. Polaritas power supply tidak terlalu fatal: boleh dibolak-balik. Namun tetap disarankan selalu menghubungkan COM ke terminal negatif.


Output Device: secara garis besar output merupakan alat yang dikenai pekerjaan, dalam hal ini yang dimaksut adalah alat yang akan di kontrol sesuai dengan logika kita. Contoh output device adalah : Motor AC/DC, Timer, Lampu, Alarm, Buzzer, pneumatik, dll.
PLC OMRON CPM2A-20CDR-A memiliki terminal output sebanyak 8 buah,pada chanal 10, dengan 4 buah terminal COM yakni:
·          Output 00 >> COM
·         Output 01 >> COM
·         Output 02 dan 03 >> COM
·         Output 04, 05, 06 dan 07 >> COM

Cara Pengkabelan Output Device : Bayangkan bahwa PLC adalah skakelar untuk melayani beban
·         Kabel Fasa sumber 220 V-AC dihubungkan ke terminal COM output PLC
·         Kabel Netral dari sumber 220 V-AC dihubungkan ke beban,
·         Dari beban dihubungkan ke salah satu terminal output (00, 01,..., 07)



Minggu, 27 November 2016

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Hakikat pertumbuhan dan perkembangan peserta didik


Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah perubahan kuantitatif (dapat dihitung/diukur), mengenai aspek fisik atau biologis. Perkembangan adalah perubahan kualitatif (dapat dinilai/dikelompokkan) mengenai aspek intelektual, emosi, bahasa, bakat, nilai moral dan sikap.
I.                   Faktor-faktor dasar Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik
Faktor perkembangan peserta didik di pengaruhi oleh beberapa yaitu factor keturunan (pembawaan) dan factor lingkungan dan penglaman.
Faktor Keturunan / pembawaan menurut aliran nativisme, seseorang individu akan menjadi pribadi sebagaimana adanya yang telah ditentukan oleh pembawaan dan sifatnya yang dibawa sejak ia dilahirkan. contoh : seorang anak yang bersifat mirip dengan ayahnya.
Faktor lingkungan atau pengalaman, dan pendidikan menurut aliran empirisme seorang individu diibaratkan sebagai kertas yang masih putih yang akan menjadi pribadi yang khas dan unik sebagaimana dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan atau lingkungan hidupnya. Contoh : kebiasaan berkumpul atau nongkrong di kalangan remaja.
Jadi, perkembangan peserta didik tergantung akan keturunan, atau lingkungan yang lebih kuat mempengaruhi perkembangan seseorang, atau keduanya sama kuat dalam mempengaruhi perkembangan seseorang.        
Faktor Pertumbuhan dipengaruhi oleh factor Internal yaitu sifat jasmaniah yang di wariskan oleh orang tuanya dan kematangan. Serta factor eksternal yaitu kesehatan, makanan, stimulasi lingkungan dan sebagainya
Fase – Fase Perkembangan
  1. Perkembangan Intelek (Perkembangan Kognitif), yaitu proses psikologis yang di dalamnya melibatkan beberapa proses (memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan). Contoh : memperoleh rumus matematika, menyelesaikan soal dengan rumus tersebut.
  2. Perkembangan Kreativitas, ditandai dengan kemampuan cara berfikir divergen, yaitu kemampuan individu mencari alternative jawaban terhadap suatu persoalan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan , dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengkolaborasi gagasannya. Contohnya : Pemanfaatan limbah untuk produk baru yang bernilai guna dan bernilai jual.
  3. Perkembangan Emosi, yaitu perkembangan yang dipengaruhi oleh potensi kejiwaan yang dimiliki oleh manusia. Contoh : seorang bayi hanya akan membaik emosinya saat kebutuhannya terpenuhi. Seiring bertambahnya usia kebutuhan seseorang akan semakin kompleks dan akan mempegaruhi emosinya.
  4. Perkembangan Bakat Khusus (talent) merupakan kemampuan bawaan berupa potensi khusus dan jika memperoleh kesempatan berkembang dengan baik, akan muncul sebagai kemampuan khusus dalam bidang tertentu sesuai potensinya. Contoh :  seseorang yang meiliki bakat khusus di bidang matematika dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkannya akan memperoleh prestasi yang menonjol dalam bidang tersebut.
  5. Perkembangan Hubungan Sosial, merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan, pada hubungan social ini, factor intelektual dan emosional mengambil peran yang sangat penting, dimulai dari tingkat yang sangat sederhana dan terbatas sampai pada tingkat yang luas dan komplek. Semakin dewasa dan bertambah umur, tingkat hubungan social berkembang menjadi amat luas dan kompleks. Contoh : seorang bayi awalnya hanya mengenal orang tua yang selajutnya mengenal orang-orang di sekitarnya.
  6. Perkembangan Kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan sendiri dan untuk kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dari orang lain, maupun berpikir dan bertindak original/kreatif, dan penuh inisiatif, mampu mempengaruhi lingkungan, mempunyai rasa percaya diri dan memperoleh kepuasan dari usahanya. Contoh : penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja dalam keluarga, penciptaan keterbukaan, penciptaan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan, berkomunikasi empatik sesama remaja, berinteraksi dengan baik sesama remaja.
  7. Perkembangan Bahasa, bahasa merupakan alat yang berfungsi untuk berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain. Faktor Intelektual seseorang sanagat mempengaruhi perkembangan bahasa seseorang.
  8. Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap. Nilai merupakan dasar pertimbangan bagi individu untuk melakukan sesuatu, moral merupakan perilaku yang seharusnya di lakukan atau dihindari, sedangkan sikap merupakan kecenderungan individu untuk merespon terhadap suatu objek atau sekumpulan objek sebagai perwujudan dari system nilai dan moral yang ada di dalam dirinya.
Pengertian Kognitif
Istilah cognitive berasal dari kata cognition, yang berarti knowing atau mengetahui, yang dalam arti luas berarti perolehan, penataan, dan pengunaan pengetahuan (Neisser, 1976).[1] Secara sederhana, dapat dipahami bahwa kemampuan kognitif adalah kemampuan yang dimiliki anak untuk berfikir lebih kompleks, serta kemampuan penalaran dan pemecahan masalah.
Menurut Chaplin dalam Dictionary of Psycologhy karyanya, kognitif adalah konsep umum yang mencakup seluruh bentuk pengenalan, termasuk didalamnya mengamati, menilai, memerhatikan, menyangka, membayangkan, menduga, dan menilai. Sedangkan menurut Mayers (1996) menjelaskan bahwa kognitif merupakan kemampuan membayangkan dan menggambarkan benda atau peristiwa dalam ingatan dan bertindakberdasarkan penggambaran ini.
Perkembangan kognitif pada seorang individu berpusat pada otak, dalam perspektif psikologi kognitif otak adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan seperti ranah afektif (rasa), dan ranah psikomotor (karsa). Tanpa ranah kognitif, sulit dibayangkan seorang siswa dapat berfikir. Selanjutnya, tanpa berfikir mustahil siswa tersebut dapat memahami faedah materi-materi yang disajikan guru kepadanya. Akan tetapi fungsi afektif dan psikomotor pun dibutuhkan oleh siswa, sebagai pendukung dari fungsi kognitif.

B.      Tahap Perkembangan Kogntif                                                                       
Seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak, Jean Pieget mengklasifikasikan perkembangan kognnitif anak menjadi 4 tahap, antara lain,:
(1)   Tahap Sensory Motor ( berkisar antara usia sejak lahir sampai 2 tahun)
Gambarannya, bayi bergerak dari pergerakan refleks instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis.
(2)   Tahap Pre-0perational (berkisar antara 2-7 tahun)
Gambarannya, anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. (kata dan gambar menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis). Pada tahap praoperasional (2-7 tahun ), konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egoisentrisnya mulai kuat. Pada tahap ini pola pikir anak terbagi 2 :  Prakonseptual (2-4 th), dan Pemikiran Intuitif (4-7 th).
(3)   Tahap Concrete Operarational (berkisar antara 7-11 tahun)
Gambarannya, anak dapat berpikir secara logis mengenai hal yag konkret dan mengklasifikasikan benda kedalam bentuk yang berbeda. Tahap selanjutnya Concrete Operarational, anak usia 7-11 th lebih banyak meluangkan waktunya (lebih dari 40 %) untuk berinteraksi dengan teman sebayanya.
(4)   Tahap Formal Operational (berkisar antara 11-15 tahun)
Gambarannya, remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan idealistis. Pada tahap Formal Operational, anak sudah memasuki  masa remaja, disini fungsi kognitif telah mencapai aktivitas kognitif tingkat tinggi, seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis atau kemampuan mengambil keputusan.
C.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif pada seorang anak tidak serta merta tumbuh begitu saja. Hal ini berarti bahwa setiap manusia (anak) memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perkembangan kognitif pada anak memang tidak dapat dikatakan sama dari anak yang satu dengan anak yang lain. Perbedaan perkembangan ini tidak lepas dari beberapa faktor. Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif pada diri seorang anak.
1.      Perkembangan organik dan kematangan sistem syaraf.
Hal ini erat kaitannya dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan organ tubuh anak itu sendiri. Seorang anak yang memiliki kelainan fisik belum tentu mengalami perkembangan kognitif yang lambat. Begitu juga sebaliknya, seorang anak yang pertumbuhan fisiknya sempurna bukan merupakan jaminan pula perkembangan kognitifnya cepat. Sistem syaraf dalam diri anak turut mempengaruhi proses perkembangan kognitif anak itu sendiri. Bila syaraf dalam otaknya terdapat gangguan tentu saja perkembangan kognitifnya tidak seperti anak-anak pada umumnya (dalam hal ini anak dalam kondisi normal), bisa jadi perkembangannya cepat tetapi bisa juga sebaliknya.
2.      Latihan dan Pengalaman
Hal ini berkaitan dengan pengembangan diri anak melalui serangkaian latihan-latihan dan pengalaman yang diperolehnya. Perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh latihan-latihan dan pengalaman.
3.      Interaksi Sosial
Perkembangan kognitif anak juga dipengaruhi oleh hubungan anak terhadap lingkungan sekitarnya, terutama situasi sosialnya, baik itu interaksi antara teman sebaya maupun orang - orang terdekatnya.
4.      Ekuilibrasi
Ekuilibrasi merupakan proses terjadinya keseimbangan yang mengacu pada keempat tahap perkembangan kognitif menurut Jean Piaget. Keseimbangan tahapan yang dilalui si anak tentu menjadi faktor penentu bagi perkembangan kognitif anak itu sendiri.

PERKEMBANGAN AFEKTIF
Afektif (penguasaan nilai dan sikap).semakin tumbuh dan berkembang fisik dan psikis anak, ia mulai mengenal nilai-nilai mengenai hal-hal yang boleh dan dilarang untuk dilakukan.
Erikson melahirkan teori perkembangan afektif yang terdiri atas delapan tahap.

a. Trust vs Mistnis/Kepercayaan dasar (0;0 -1;0).
Yang kebutuhannya terpenuhi waktu ia bangun, keresahannya segera terhapus, selalu dibuai dan diperlakukan sebaik-baiknya, diajak main dan bicara, akan turnbuh perasaannya bahwa dunia ini tempat yang aman dengan orang-orang di sekitarnya yang selalu bersedia menolong dan dapat dijadikan tempat ia menggantungkan nasibnya sehingga dapat menumbuhkan rasa kepercayaan pada anak tersebut.

b. Autonomy vs Shame and Doubt/Otonomi (1;0 – 3;0)
Pada tahap ini Erikson melihat munculnya autonomy. Dimensi autonomy ini timbulnya karena adanya kemampuan motoris dan mental anak. Pada saat ini bukan hanya berjalan, tetapi juga memanjat, menutup-membuka menjatuhkan, menarik dan mendorong, memegang dan melepaskan. Anak sangat bangga dengan kemampuannya ini dan ia ingin melakukan banyak hal sendiri. Jika orang dewasa yang mengasuh dan membimbing anak tidak sabar dan selalu membantu mengerjakan segala sesuatu yang sesungguhnya dapat dikerjakannya sendiri oleh anak itu, maka akan tumbuh pada anak itu rasa; malu-malu dan ragu-ragu. Anak  yang dapat melalui masa ini dengan adanya keseimbangan serta dapat mengatasi rasa malu dan ragu dengan rasa outonomus, maka ia sudah siap menghadapi siklus-siklus kehidupan berikutnya. Namun demikian keseimbangan yang diperoleh pada masa ini dapat berubah ke arah positif maupun negatif oleh peristiwa-peristiwa di masa selanjutnya.
c. Initiatives vs Guilt/Inisiatif (3;0 – 5;0)
Pada masa ini anak sudah menguasai badan dan geraknya. la dapat mengendarai sepeda roda tiga, dapat lari, memukul, memotong. Inisiatif anak akan lebih terdorong dan terpupuk bila orang tua memberi respons yang baik terhadap keinginan anak untuk bebas dalam melakukan kegiatan-kegiatan motoris sendiri. Hal yang sama terjadi pada kemampuan anak untuk menggunakan bahasa dan kegiatan fantasi.
d. Industry vs litferioriry/Produkttvltns (6;0 – 11 ;00)
Anak mulai mampu berpikir deduktif, bermain dan belajar menurut peraturan yang ada. Anak didorong untuk membuat, melakukan dan mengerjakan dengan benda-benda yang praktis. dan mengerjakannya sampai selesai sehingga menghasilkan sesuatu. Berdasarkan hasilnya mereka dihargai dengan diberi hadiah. Dengan demikian rasa/sifat ingin menghasilkan sesuatu dapat dikembangkan.
e. Identity vs Role Confusion/Identitas (12;0 – 18;0)               
Pada saat ini anak sudah menuju kematangan fisik dan mental. la mempunyai perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan baru sebagai akibat perubahan-perubahan tubuhnya. Pandangan dan pemikirannya tentang dunia sekelilingnya mengilami perkembangan. la mulai dapat berpikir tentang pikiran orang lain. la mulai mengerti tentang keluarga yang ideal, agama, dan masyarakat, yang dapat diperbandingkannya dengan apa yang dialaminya sendiri.
f. Intimacy vs Isolation/Keakraban (19;0 – 25;0)
Yang dimaksud dengan intimacy oleh Erikson selain hubungan antara suami istri adalah juga kemampuan untuk berbagi rasa dan memperhatikan orang lain. Pada tahap ini pun keberhasilan tidak bergantung secara langsung kepada orang tua. Jika intimacy ini tidak terdapat di antara sesama teman atau suami istri, menurut Erikson, akan terdapat apa yang disebut isolation, yakni kesendirian tanpa adanya orang lain untuk berbagi rasa dan saling memperhatikan.
g. Generavity vs Self Absorption/Generasi Berikut (25;0 – 45;0)
Generativity berarti bahwa orang mulai memikirkan orang-orang lain di luar keluarganya sendiri, memikirkan generasi yang akan datang serta hakikat masyarakat dan dunia tempat generasi itu hidup. Generativity ini bukan hanya terdapat pada orang tua (ayah dan ibu), tetapi terdapat pula pada individu-individu yang secara aktif memikirkan kesejahteraan kaum muda serta berusaha membuat tempat bekerja yang lebih baik untuk mereka hidup. Orang yang tidak berhasil mencapai generativity berarti ia berada dalam keadaan self absorption dengan hanya memusatkan perhatian kepada kebutuhan-kebutuhan dan kesenangan pribadinya saja.
h. Integrity vs Despair/Integritas (45;0)

Pada tahap ini usaha-tisaha yang pokok pada individu sudah mendekati kelengkapan, dan merupakan masa-masa untuk menikmati pergaulan dengan cucu-cucu. Integrity timbul dari kemampupn individu untuk melihat kembali kehidupannya yang lalu dengan kepuasan. Sedangkan kebalikannya adalah despair, yaitu keadaan di mana individu yang menengok ke belakang dan meninjau kembali kehidupannya masa lalu sebagai rangkaian kegagalan dan kehilangan arah, serta disadarinya bahwa jika ia memulai lagi sudah terlambat.

Hakikat Belajar dan Pembelajaran

HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A. Belajar dan pembelajaran
1.      Belajar, perkembangan, dan pendidikan
Merupakan hal penting yang menarik untuk dipelajari. Gejala ketiga tersebut terkait dengan pembelajaran. Belajar dilakukan oleh siswa secara individu.perkembangan dialami dan dihayati oleh siswa itu sendiri. Pendidikan merupakan kegiatan interaksi. Dalam kegiatan interaksi tersebut, pendidik atau guru bertindak mendidik siswa tersebut. Tindak mendidik tersebut tertuju pada perkembangan siswa menjadi mandiri. Untuk dapat menjadi mandiri, siswa tersebut harus belajar.
Bila siswa belajar, maka siswa tersebut akan mengalami perubahan. Contoh : siswa yang pada kelas 1 SMP tidak dapat berbahasa inggris, setelah belajar bahasa inggris selama 2 tahun kemudian siswa tersebut dapat berbahasa inggris dengan lancar.
Syarat perkembangan mental
Perkembangan mental dapat terjadi apabila :
(i)                 Pertumbuhan jasmani telah siap (sebagai ilustrasi, perkembangan berbahasa inggris terjadi setelah alat-alat berbicara dan berpikir telah siap untuk difungsikan sebagaiman mestinya.
(ii)               Individu belajar, baik atas dorongan sendiri ataupun dorongan dari lingkungan sekitar.
2.      Ciri-ciri belajar dan pembelajaran
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar, seperti : keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan sumber belajar.
-Ciri-ciri umum pendidikan, belajar, perkembangan
Unsur-unsur
Pendidikan
Belajar
Perkembangan
Pelaku


Tujuan


Proses

Tempat

Lama waktu

Syarat terjadi

Ukuran keberhhasilan

Faedah


Hasil
Guru sebagai pelaku mendidik dan siswa yang terdidik
Membantu siswa untuk menjadi pribadi mandiri yang utuh
Proses interaksi sebagai faktor eksternal belajar
Lembaga pendidikan sekolah dan luar sekolah
Sepanjang hayat dan
sesuai jenjang lembaga
guru memiliki
kewibawaan pendidikan
terbentuk pribadi
terpelajar

bagi masyarakat mancerdaskan bangsa

pribadi sebagai perkembangan yang produktif dan kreatif
Siswa yang bertindak sebagai pebelajar atau yang belajar
Memperoleh hasila belajar dan pengalaman hidup

Internal pad siswa yang sedang belajar
Sembarang tempat
Sepanjang hayat

Motivasi  belajar yang kuat
Dapat memecahkan masalah

Bagi pebelajar, mempertinggi martabat pribadi
Hasil belajar sebagai dampak pengajaran dan pengiring

Siswa yang menglami perubahan

Memperoleh perubahan mental

Internal pada siswa
yang sedang belajar
Sembarang tempat

Sepanjang hayat

Kemauan merubah diri

Terjadinya perubahan positif

Bagi pebelajar, perbaiki kemajuan mental

Kemajuan ranah
Afektif, kognitif, dan psikomotorik

Apakah hal-hal di luar siswa yang menyebabkan belajar juga sukar ditentukan. ? oleh karena itu beberapa ahli mengemukakan pandangan yang berbeda tetang belajar.
a.       Belajar menurut pandangan skinner
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar , maka responya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar, maka responya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal sebagai berikut :
(i)                 Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pebelajar.
(ii)               Respons si pebelajar dan
(iii)             Konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Contoh : siswa akan merespon dengan baik apabila dia mau belajar jika diberi hadiah atau semacamnya
Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori skinner :
Kesatu : mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif dan yang negatif. Yang positif akan diperkuat dana yang negatif akan dikurangi atau dihilanghkan.
Kedua : membuat daftar penguat positif, guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.
Ketiga : memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.
Keempat : membuat program pembelajaran. Progam pembeljaran ini berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguatan waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi. Dalam melakukan progam pembeljaran ini, guru  mencatatdan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidakbarhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi perilaku selanjutnya.
b.      Belajar menurut gagne
Merupakan kegitan yang komplek. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar , orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (i) stimulasi yang belajar dari lingkungan, dan (ii) proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar.
Ada tiga komponen pentingdalam belajar, yaitu : kondisi eksternal, kondisi internal, dan hasil belajar.
Menurut gagne, kapabilitas siswa ada 5, yaitu :
1.      Informasi verbal : kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
2.      Keterampilan intelektual : kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang.
3.      Strategi kognitif : kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.
4.      Keterampilan motorik : kemempuan melakukan serangkaiasn gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5.      Sikap : kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.
c.       Belajar menurut pandangan piaget
Beliau berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan, maka fungsi intelek semakain berkimbang.perkembangan intelek melalui tahap-tahap berikut : sensori motor, praopersional, opeersional konkret, opersi formal.
Menurut piaget, pembelajaran terdiri dari 4 langkah berikut :
Langkah satu : menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri. Contoh : pokok bahasan yang pantass untuk beraksperimen, topik yang cocok untuk pemecahan masalah dalam kelompok.
Langkah kedua : memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut.
Langkah tiga : mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan yang menunjang proses pemecahan masalah.
Langkah empat : menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi.
Secara singkat, piaget menyarankan, guru dalam pembelajaran memilih masalah yang berciri kegiatan prediksi, ekserimentasi, dan eksplanasi.

d.      Belajar menurut rogers
Beliau menyayangkan praktek pendidikan di sekolah tahun 1960-an. Menurut pendapatnya, praktek pendidikan menitik beratkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.
Prinsip pendidikan dan pembelajaran menurut rogers :
1.      Menjadi manusia berarti mamiliki kekuatan wajar untuk belajar.
2.      Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
3.      Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4.      Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar , keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dennngan melakukan pengubahan diri terus menerus.
5.      Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggungjawab dalam proses belajar.
6.      Belajar mengalami (akspriential learning) dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri.
7.      Belajar mengalami menuntut ketertiban siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.
Rogers mengemukakan saran tentang langkah-langkah pembelajaran yang perlu dilakukan oleh guru. :
1.      Guru memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara terstruktur
2.      Guru dan siswa membuat kontrak belajar.
3.      Guru menggunakan metode inkuiri atau metode menemukan.
4.      Guru menggunakan metode stimulasi.
5.      Guru mengadakan latihan kepekaan agar swa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok.
6.      Guru bertindak sebagai fasilitator belajar
7.      Sebaiknya guru menggunakan pengajaran berprogram, agar tercipta peluang bagi siswa untuk timbulnya kreatifitas.
B. Tujuan belajar dan pembelajaran
            Belajar merupakan pristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompl
eks. Komplektisitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari segi guru dan dari segi siswa. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam bukku-buku pelajaran. Dari segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal.
            Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlihat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi : kognitif, afektif, dan psikomotrik
1.      Tujuan intruksional, tujuan pembelajaran dan tujuan belajar
Dari segi guru tunjuan intruksional dan tujuan pembelajaran merupakan pedoman tindak mengajar dengan acuan berbeda. Tujuan instruksional (khusus dan umum) dijabarkan dari kurikulum yang berlaku secara legal di sekolah. Tujuan kurikulum sekolah tersebut dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional yang terumus di dalam UU pendidikan yang berlaku. Dalam hal ini misalnya UU No.2 th 1989 tentang sistem pendidikan nasional. Acuan pada kurikulum yang berlaku tersebut, berarti juga mengaitkan pada bahan belajar yang haru diajarkan oleh guru. Bahan belajar tersebut ditentukan oleh ahli kurikulum.
Dari segi siswa, sasaran belajar tersebut merupakan penduan belajar. Sasaran belajar tersebut diketahui oleh siswa sebagai akibat adanya informasi guru. Panduan belajar tersebut harus diikuti, sebab siswa merupakan prasyarat bagi progam belajar selanjutnya.
2.      Siswa dan tujuan belajar
Siswa adalah subyek yang terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami tindak mengajar, dan merespons dengan tindak belajar. Pada umumnya semula siswa belum menyadari pentingnya belajar. Berkat informasi guru tentang sasaran belajar, maka siswa mangatahui apa arti belajar baginya.
Siswa mengalami suatu proses belajar. Dalam proses belajar tersebut, siswa menggunakan kemampun metalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, psikotmotorik yang dibeljarkan menjadi semakin lebih rinci dan menguat.
Tujuan belajar pentinng bagi guru dan siswa sendiri. Dalam desain intruksional guru merumuskan tujuan intruksional khusus atau sasaran belajar siswa. Rumusan tersebut disesuaikan dengan perilaku yang hendaknya dapat dilakukan siswa.
Dari segi guru, guru memberikan informasi tentang sasaran belajar. Bagi siswa, siswa belajar tersebut merupakan tujuan belajarnya sementara. Dengan belajar, maka kemampuan siswa meningkat. Meningkatnya kemampuan mendorong siswa untuk mencapai tujuan belajar yang baru. Bila semua siswa menerima sasaran belajar dari guru, maka makin lama siswa membuat tujuan belajar sendiri. Dengan demikian, makin lama siswa akan dapat membuat progam belajarnya sendiri.
C. unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
   Dapat kita ketahui bahwa belajar merupkan proses internal siswa dan pembelajaran merupakan kondisi eksternal belajar.
1.      Dinamika siswa dalam belajar
Menurut para ahli, bloom, khrathwohl, dan simson, menerangkan ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
-          Ranah kognitif
1)      Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tetang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa , pengrtian, kaidah, teori, prinsip atau metode.
2)      Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipeljari.
3)      Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prisip.
4)      Analis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya, mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5)      Sintesis, mencakup kemampuan membetuk suatu pola baru. Maisalnya, kemampuan menyusun suatu program kerja.
6)      Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, kemampuan menilai hasil karangan.
-          Ranah afektif :
1)      Penerimaan, yangn mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.
2)      Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
3)      Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap.
4)      Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
5)      Pembentukan pola hidup, yang ,mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.
-          Ranah psikomotorik :
1)      Persepsi, yang mencakup kemampuan memilah-milahkan hal-hal secara khas dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.
2)      Kesiapan, yang mencakup kemampuan penempatan diri dalam keadaan di mana akan terjadi suatu gerakanatau rangkaian gerakan.kemampuan ini mencakup jasmani dan rohani.
3)      Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan.
4)      Gerakan yang terbyasa, mencakup kemampuan melkaukan gerakan tanpa contoh.
5)      Gerakan kompleks, yanng mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap, secar lancar, efisiensi, dan tepat.
6)      Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku.
7)      Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola gerak-gerik yang baru atas dasar prakasa sendiri.


2.      Dinamika guru dalam kegiatan pembelajaran
a.       Bahan ajar
Bahan belajar dapat terwujud benda dan isi pendidikan. Isi pendidikan tersebut dapat berupa pengetahuan, perilaku, nilai, sikap dan metode pemerolehan. Contoh : buku biografi “pannglima soedirman”, adalah bahan belajar sejarah. Wujuad buku tersebut dapat dibuat menarik perhatian siswa, misalkan denngan gambar-gambar yang keren, foto-foto panglima soedirman yang gagah.
Dari kasus buku biografi tersebut dapat diketahui bahwa bahan belajar dapat dijadikan sarana mempergiat belajar. Bahan belajar dapat menarik perhatian siswa. Wujud fisik seperti buku, ukuran buku, gambar sampul, bentuk huruf dapat dibuat oleh penyusun buku sehingga dapat menarik si pembaca.
b.      Suasana belajar
Kondisi gedung sekolah, tata ruang kelas, alat-alat belajar mempunyao pengaruh pada kegiatan belajar. Di samping kondisi fisik tersebut, suasana pergaula di sekolah juga berpengaruh peda keiatan belajar. Guru memiliki peranan dalam menciptakan suasama belajar yang menarik bagi siswa.
c.       Media dan sumber belajar
Dewasa ini media dan sumber belajar dapat ditemukan dengan mudah. Sawah percobaan, kebun bibit, kebun binatang, tempat wiasta, museum, perpuatkaan umum, surat kabar, majalah, radio, sanggar sekolah. Di samping itu buku pelajaran, buku bacaan, dan laboratorium sekolah juga tersedia semakin baik. Guru berperan penting dalam memanfaatkan media dan sumber belajar tersebut.secara singkat, guru dapat membuat progam pembelajarandengan memanfaatkan media dan sumber belajar di luar sekolah. Pemanfaatkan tersebut bermaksud meningkatkan kegiatan belajar, sehingga mutu hasil belajar semakin meningkat.
d.      Guru sebagai subjek pembelajar
Guru adalah subjek pembelajar siswa. Sebagai subjek pembelajar guru berhubungan langsung dengan siswa. Siswa SMP dan SMA adalah merupakan siswa yang sedang berkembang. Siswa SMP dan SMA tersebut memiliki motivasi belajar yang berbeda-beda. Guru dapat menggolong-golongkan motivasi instrukmental, motivasi sosial, motivasi berprestasi, dan motivasi instrinsik siswa.
Peranan seorang guru adalah :
1)      Membuat desain pembelajaran secara tertulis, lengkap, menyeluruh.
2)      Meningkatkan diri untuk menjadi seorang guru yang berkepribadian utuh.
3)      Bertindak sebagai yang mendidik.
4)      Meningkatkan profesionalitas keguruan.
5)      Melakukan pembelajaran sesuai dengan berbagai model pembelajran yang disesuaikan dengan kondisi siswa, bahan belajar, dan kondisi sekolah setempat.

6)      Dalam berhadapan dengan siswa, guru berperan sebagai fasilitas belajar, pembimbing belajar, dan pemberi balikan belajar. Dengan adanya peran-peran tersebut, maka sebagai pembelajar guru adalah pembelajar sepanjang hayat.