Minggu, 27 November 2016

Hakikat Belajar dan Pembelajaran

HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A. Belajar dan pembelajaran
1.      Belajar, perkembangan, dan pendidikan
Merupakan hal penting yang menarik untuk dipelajari. Gejala ketiga tersebut terkait dengan pembelajaran. Belajar dilakukan oleh siswa secara individu.perkembangan dialami dan dihayati oleh siswa itu sendiri. Pendidikan merupakan kegiatan interaksi. Dalam kegiatan interaksi tersebut, pendidik atau guru bertindak mendidik siswa tersebut. Tindak mendidik tersebut tertuju pada perkembangan siswa menjadi mandiri. Untuk dapat menjadi mandiri, siswa tersebut harus belajar.
Bila siswa belajar, maka siswa tersebut akan mengalami perubahan. Contoh : siswa yang pada kelas 1 SMP tidak dapat berbahasa inggris, setelah belajar bahasa inggris selama 2 tahun kemudian siswa tersebut dapat berbahasa inggris dengan lancar.
Syarat perkembangan mental
Perkembangan mental dapat terjadi apabila :
(i)                 Pertumbuhan jasmani telah siap (sebagai ilustrasi, perkembangan berbahasa inggris terjadi setelah alat-alat berbicara dan berpikir telah siap untuk difungsikan sebagaiman mestinya.
(ii)               Individu belajar, baik atas dorongan sendiri ataupun dorongan dari lingkungan sekitar.
2.      Ciri-ciri belajar dan pembelajaran
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar, seperti : keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan sumber belajar.
-Ciri-ciri umum pendidikan, belajar, perkembangan
Unsur-unsur
Pendidikan
Belajar
Perkembangan
Pelaku


Tujuan


Proses

Tempat

Lama waktu

Syarat terjadi

Ukuran keberhhasilan

Faedah


Hasil
Guru sebagai pelaku mendidik dan siswa yang terdidik
Membantu siswa untuk menjadi pribadi mandiri yang utuh
Proses interaksi sebagai faktor eksternal belajar
Lembaga pendidikan sekolah dan luar sekolah
Sepanjang hayat dan
sesuai jenjang lembaga
guru memiliki
kewibawaan pendidikan
terbentuk pribadi
terpelajar

bagi masyarakat mancerdaskan bangsa

pribadi sebagai perkembangan yang produktif dan kreatif
Siswa yang bertindak sebagai pebelajar atau yang belajar
Memperoleh hasila belajar dan pengalaman hidup

Internal pad siswa yang sedang belajar
Sembarang tempat
Sepanjang hayat

Motivasi  belajar yang kuat
Dapat memecahkan masalah

Bagi pebelajar, mempertinggi martabat pribadi
Hasil belajar sebagai dampak pengajaran dan pengiring

Siswa yang menglami perubahan

Memperoleh perubahan mental

Internal pada siswa
yang sedang belajar
Sembarang tempat

Sepanjang hayat

Kemauan merubah diri

Terjadinya perubahan positif

Bagi pebelajar, perbaiki kemajuan mental

Kemajuan ranah
Afektif, kognitif, dan psikomotorik

Apakah hal-hal di luar siswa yang menyebabkan belajar juga sukar ditentukan. ? oleh karena itu beberapa ahli mengemukakan pandangan yang berbeda tetang belajar.
a.       Belajar menurut pandangan skinner
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar , maka responya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar, maka responya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal sebagai berikut :
(i)                 Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pebelajar.
(ii)               Respons si pebelajar dan
(iii)             Konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Contoh : siswa akan merespon dengan baik apabila dia mau belajar jika diberi hadiah atau semacamnya
Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori skinner :
Kesatu : mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif dan yang negatif. Yang positif akan diperkuat dana yang negatif akan dikurangi atau dihilanghkan.
Kedua : membuat daftar penguat positif, guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.
Ketiga : memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.
Keempat : membuat program pembelajaran. Progam pembeljaran ini berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguatan waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi. Dalam melakukan progam pembeljaran ini, guru  mencatatdan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidakbarhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi perilaku selanjutnya.
b.      Belajar menurut gagne
Merupakan kegitan yang komplek. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar , orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (i) stimulasi yang belajar dari lingkungan, dan (ii) proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar.
Ada tiga komponen pentingdalam belajar, yaitu : kondisi eksternal, kondisi internal, dan hasil belajar.
Menurut gagne, kapabilitas siswa ada 5, yaitu :
1.      Informasi verbal : kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
2.      Keterampilan intelektual : kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang.
3.      Strategi kognitif : kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.
4.      Keterampilan motorik : kemempuan melakukan serangkaiasn gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5.      Sikap : kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.
c.       Belajar menurut pandangan piaget
Beliau berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan, maka fungsi intelek semakain berkimbang.perkembangan intelek melalui tahap-tahap berikut : sensori motor, praopersional, opeersional konkret, opersi formal.
Menurut piaget, pembelajaran terdiri dari 4 langkah berikut :
Langkah satu : menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri. Contoh : pokok bahasan yang pantass untuk beraksperimen, topik yang cocok untuk pemecahan masalah dalam kelompok.
Langkah kedua : memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut.
Langkah tiga : mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan yang menunjang proses pemecahan masalah.
Langkah empat : menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi.
Secara singkat, piaget menyarankan, guru dalam pembelajaran memilih masalah yang berciri kegiatan prediksi, ekserimentasi, dan eksplanasi.

d.      Belajar menurut rogers
Beliau menyayangkan praktek pendidikan di sekolah tahun 1960-an. Menurut pendapatnya, praktek pendidikan menitik beratkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.
Prinsip pendidikan dan pembelajaran menurut rogers :
1.      Menjadi manusia berarti mamiliki kekuatan wajar untuk belajar.
2.      Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
3.      Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4.      Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar , keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dennngan melakukan pengubahan diri terus menerus.
5.      Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggungjawab dalam proses belajar.
6.      Belajar mengalami (akspriential learning) dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri.
7.      Belajar mengalami menuntut ketertiban siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.
Rogers mengemukakan saran tentang langkah-langkah pembelajaran yang perlu dilakukan oleh guru. :
1.      Guru memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara terstruktur
2.      Guru dan siswa membuat kontrak belajar.
3.      Guru menggunakan metode inkuiri atau metode menemukan.
4.      Guru menggunakan metode stimulasi.
5.      Guru mengadakan latihan kepekaan agar swa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok.
6.      Guru bertindak sebagai fasilitator belajar
7.      Sebaiknya guru menggunakan pengajaran berprogram, agar tercipta peluang bagi siswa untuk timbulnya kreatifitas.
B. Tujuan belajar dan pembelajaran
            Belajar merupakan pristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompl
eks. Komplektisitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari segi guru dan dari segi siswa. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam bukku-buku pelajaran. Dari segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal.
            Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlihat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi : kognitif, afektif, dan psikomotrik
1.      Tujuan intruksional, tujuan pembelajaran dan tujuan belajar
Dari segi guru tunjuan intruksional dan tujuan pembelajaran merupakan pedoman tindak mengajar dengan acuan berbeda. Tujuan instruksional (khusus dan umum) dijabarkan dari kurikulum yang berlaku secara legal di sekolah. Tujuan kurikulum sekolah tersebut dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional yang terumus di dalam UU pendidikan yang berlaku. Dalam hal ini misalnya UU No.2 th 1989 tentang sistem pendidikan nasional. Acuan pada kurikulum yang berlaku tersebut, berarti juga mengaitkan pada bahan belajar yang haru diajarkan oleh guru. Bahan belajar tersebut ditentukan oleh ahli kurikulum.
Dari segi siswa, sasaran belajar tersebut merupakan penduan belajar. Sasaran belajar tersebut diketahui oleh siswa sebagai akibat adanya informasi guru. Panduan belajar tersebut harus diikuti, sebab siswa merupakan prasyarat bagi progam belajar selanjutnya.
2.      Siswa dan tujuan belajar
Siswa adalah subyek yang terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami tindak mengajar, dan merespons dengan tindak belajar. Pada umumnya semula siswa belum menyadari pentingnya belajar. Berkat informasi guru tentang sasaran belajar, maka siswa mangatahui apa arti belajar baginya.
Siswa mengalami suatu proses belajar. Dalam proses belajar tersebut, siswa menggunakan kemampun metalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, psikotmotorik yang dibeljarkan menjadi semakin lebih rinci dan menguat.
Tujuan belajar pentinng bagi guru dan siswa sendiri. Dalam desain intruksional guru merumuskan tujuan intruksional khusus atau sasaran belajar siswa. Rumusan tersebut disesuaikan dengan perilaku yang hendaknya dapat dilakukan siswa.
Dari segi guru, guru memberikan informasi tentang sasaran belajar. Bagi siswa, siswa belajar tersebut merupakan tujuan belajarnya sementara. Dengan belajar, maka kemampuan siswa meningkat. Meningkatnya kemampuan mendorong siswa untuk mencapai tujuan belajar yang baru. Bila semua siswa menerima sasaran belajar dari guru, maka makin lama siswa membuat tujuan belajar sendiri. Dengan demikian, makin lama siswa akan dapat membuat progam belajarnya sendiri.
C. unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
   Dapat kita ketahui bahwa belajar merupkan proses internal siswa dan pembelajaran merupakan kondisi eksternal belajar.
1.      Dinamika siswa dalam belajar
Menurut para ahli, bloom, khrathwohl, dan simson, menerangkan ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
-          Ranah kognitif
1)      Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tetang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa , pengrtian, kaidah, teori, prinsip atau metode.
2)      Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipeljari.
3)      Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prisip.
4)      Analis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya, mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5)      Sintesis, mencakup kemampuan membetuk suatu pola baru. Maisalnya, kemampuan menyusun suatu program kerja.
6)      Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, kemampuan menilai hasil karangan.
-          Ranah afektif :
1)      Penerimaan, yangn mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.
2)      Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
3)      Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap.
4)      Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
5)      Pembentukan pola hidup, yang ,mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.
-          Ranah psikomotorik :
1)      Persepsi, yang mencakup kemampuan memilah-milahkan hal-hal secara khas dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.
2)      Kesiapan, yang mencakup kemampuan penempatan diri dalam keadaan di mana akan terjadi suatu gerakanatau rangkaian gerakan.kemampuan ini mencakup jasmani dan rohani.
3)      Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan.
4)      Gerakan yang terbyasa, mencakup kemampuan melkaukan gerakan tanpa contoh.
5)      Gerakan kompleks, yanng mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap, secar lancar, efisiensi, dan tepat.
6)      Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku.
7)      Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola gerak-gerik yang baru atas dasar prakasa sendiri.


2.      Dinamika guru dalam kegiatan pembelajaran
a.       Bahan ajar
Bahan belajar dapat terwujud benda dan isi pendidikan. Isi pendidikan tersebut dapat berupa pengetahuan, perilaku, nilai, sikap dan metode pemerolehan. Contoh : buku biografi “pannglima soedirman”, adalah bahan belajar sejarah. Wujuad buku tersebut dapat dibuat menarik perhatian siswa, misalkan denngan gambar-gambar yang keren, foto-foto panglima soedirman yang gagah.
Dari kasus buku biografi tersebut dapat diketahui bahwa bahan belajar dapat dijadikan sarana mempergiat belajar. Bahan belajar dapat menarik perhatian siswa. Wujud fisik seperti buku, ukuran buku, gambar sampul, bentuk huruf dapat dibuat oleh penyusun buku sehingga dapat menarik si pembaca.
b.      Suasana belajar
Kondisi gedung sekolah, tata ruang kelas, alat-alat belajar mempunyao pengaruh pada kegiatan belajar. Di samping kondisi fisik tersebut, suasana pergaula di sekolah juga berpengaruh peda keiatan belajar. Guru memiliki peranan dalam menciptakan suasama belajar yang menarik bagi siswa.
c.       Media dan sumber belajar
Dewasa ini media dan sumber belajar dapat ditemukan dengan mudah. Sawah percobaan, kebun bibit, kebun binatang, tempat wiasta, museum, perpuatkaan umum, surat kabar, majalah, radio, sanggar sekolah. Di samping itu buku pelajaran, buku bacaan, dan laboratorium sekolah juga tersedia semakin baik. Guru berperan penting dalam memanfaatkan media dan sumber belajar tersebut.secara singkat, guru dapat membuat progam pembelajarandengan memanfaatkan media dan sumber belajar di luar sekolah. Pemanfaatkan tersebut bermaksud meningkatkan kegiatan belajar, sehingga mutu hasil belajar semakin meningkat.
d.      Guru sebagai subjek pembelajar
Guru adalah subjek pembelajar siswa. Sebagai subjek pembelajar guru berhubungan langsung dengan siswa. Siswa SMP dan SMA adalah merupakan siswa yang sedang berkembang. Siswa SMP dan SMA tersebut memiliki motivasi belajar yang berbeda-beda. Guru dapat menggolong-golongkan motivasi instrukmental, motivasi sosial, motivasi berprestasi, dan motivasi instrinsik siswa.
Peranan seorang guru adalah :
1)      Membuat desain pembelajaran secara tertulis, lengkap, menyeluruh.
2)      Meningkatkan diri untuk menjadi seorang guru yang berkepribadian utuh.
3)      Bertindak sebagai yang mendidik.
4)      Meningkatkan profesionalitas keguruan.
5)      Melakukan pembelajaran sesuai dengan berbagai model pembelajran yang disesuaikan dengan kondisi siswa, bahan belajar, dan kondisi sekolah setempat.

6)      Dalam berhadapan dengan siswa, guru berperan sebagai fasilitas belajar, pembimbing belajar, dan pemberi balikan belajar. Dengan adanya peran-peran tersebut, maka sebagai pembelajar guru adalah pembelajar sepanjang hayat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar