Dikutip
dari sumber : PLPG 2015 (Suyanto :
2008)
JENIS – JENIS METODE
PEMBELAJARAN
1. CTL (contextual teching and learning)
Pembelajaran kontekstual atau
CTL merupakan salah satu topik yang selalu hangat dibicarakan di dunia
pendidikan. Pada tahun 1983 ada suatu reformasi pendidikan di Amerika Serikat
yang diketahui adanya suatu penurunan kualitas hasil belajar. Reformasi ini
diikuti dengan suatu pertemuan tingkat tinggi tentang pendidikan. Pertemuan pendidikan
ini bersifat nasional dan dihadiri oleh para gubernur negara bagian dan
presiden USA. Peserta pertemuan sepakat untuk dapat memperbaiki kualitas pendidikan
dengan upaya agar tercapai tahun 2000. Beberapa perguruan tinggi bekerja sama
dengan guru di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan suatu sistem
pembelajaran yang mereka sebut sebagai “Contextual Teaching and Learning” atau
CTL.
Pembelajaran kontekstual secara
resmi diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun 2001 ketika Direktorat
Pendidikan Lanjutan Pertama mengirim sejumlah guru (90 orang) mengikuti “Short
Fellowship Training” di University of Washington, USA pada akhir 2001 dan awal
2002. Guru-guru tersebut adalah guru SMP pengajar bahasa Indonesia, bahasa
Inggris, Matematika, Fisika dan Biologi dari Propinsi Sulawesi Utara, Tengah
dan Tenggara, Propinsi Gorontalo, Kalimantan Timur dan Selatan.
Terdapat beberapa komponen dalam pembelajaran CTL, antara
lain :
a) Konstruktivisme
Membangun pemahaman sendiri dan pengalaman-pengalaman berdasarkan
pengalaman awal.
b) Inquiri.
Kegiatan yang diawali dengan kegiatan pengamatan dalam rangka untuk
memahami suatu konsep.
c) Bertanya.
Peserta didik di tuntut untuk bertanya setelah melakukan pengamatan dan
menarik kesimpulan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan.
d) Pemodelan.
Menarik kesimpulan tentang model pembelajaran yang telah dilaksanakan pada
tiap pertemuan.
e) Komuitas belajar.
Peserta didik membuat kelompok belajar dengan tujuan untuk berdiskusi
tentang materi pelajaran.
f) Penilaian otentik.
Mengukur pengetahuan peserta didik dengan memberikan tugas-tugas dan
latihan soal.
g) Refleksi.
Mengkaji proses seluruh kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan
2. PAKEM
Pada saat ini banyak sekolah dasar yang telah
melaksanakan PAKEM, antara lain sekolah yang TK-SD nya satu atap atau satu
lokasi. Dengan adanya TK menjadi satu atap dengan SD berarti juga dapat
menaikkan layanan pendidikan. Jumlah TK-SD nya satu atap sudah lebih dari 1000
TK-SD. Pembelajaran yang memiliki berbagai macam kegiatan yang kreatif dan
efektif serta merupakan sekolah percontohan yang juga disebut sebagai SD
Rujukan, SD Model, dan Sekolah Dasar Koalisi.
Dalam kenyataannya PAKEM tidak hanya untuk pendidikan
awal, karakteristik yang ada dalam pembelajaran ini juga tercakup dalam model pembelajaran
di tingkat menengah dan tinggi. Ciri-ciri umum dari pembelajaran yang baik
berlaku untuk semua jenjang dan semua bidang studi. Dalam pelaksanaannya kita
memiliki dan memilah mana yang cocok untuk matapelajaran kita dan sesuai dengan
kebutuhan saat itu berdasarkan tujuan untuk mencapai kompetensi atau
keterampilan apa. Model pembelajaran yang bercirikan PAKEM adalah pembelajaran
yang mendorong peserta didik aktif secara fisik, sosial dan mental untuk dapat
memahami dan mengembangkan kecakapan hidup. Pembelajaran
ini menuntut guru dan siswa untuk aktif.
Guru aktif:
•
memantau kegiatan belajar siswa
•
memberi umpan balik sesuai kebutuhan
•
mengajukan pertanyaan yang menantang dan membuat siswa berpikir
•
mempertanyakan gagasan siswa dengan mengemukakan alasan.
Adapun siswa aktif bila bisa:
•
membangun konsep dan apa yang sudah diketahui
•
bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami
•
mengemukakan gagasan sendiri atau kelompok
•
mempertanyakan gagasan baru
•
melakukan kegiatan yang ada hubungannya dengan pokok bahasan yang ada
Pembelajaran ini, perlu guru yang kreatif, antara lain
dapat:
•
mengembangkan kegiatan yang menarik dan bervariasi
•
membuat alat bantu belajar disamping alat yang sudah ada
•
memanfaatkan lingkungan untuk dikaitkan dengan bahan ajar/ilmu yang didapat
dalam kelas.
Sedangkan siswa yang kreatif adalah siswa yang dapat
•
merancang/membuat sesuatu secara mandiri atau kelompok
•
menulis/mengarang atau melaporkan apa yang dihasilkan sebagai pemerolehan
belajar yang dikembangkan.
Pembelajaran
ini efektif bila dapat mencapaikan potensi yang telah dirumuskan atau mencapai
tujuan pembelajaran dan siswa memperoleh atau mencapai kompetensi yang
diharapkan. Pembelajaran yang menyenangkan, tidak membuat anak takut:
·
takut salah
·
takut ditertawakan
·
takut dianggap sepele
Pembelajaran menyenangkan bila pembelajaran membuat anak:
*
berani mencoba/berbuat sesuatu yang sesuai keinginan;
*
berani bertanya bila kurang paham atau ingin tahu lebih banyak;
*
berani mengemukakan pendapat/ gagasan, serta
*
berani mempertanyakan gagasan orang lain.
3. Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)
Cooperative learning (CL) atau pembelajaran kooperatif
membuat siswa yang bekerja dalam kelompok akan belajar lebih banyak
dibandingkan dengan siswa yang kelasnya dikelola secara tradisional. Kelough
& Kelough (1999) mendefinisikan cooperative learning sebagai suatu macam
strategi pembelajaran secara berkelompok, siswa belajar bersama dan saling
membantu dalam membuat tugas dengan penekanan pada saling support diantara
anggota.
Pembelajaran bersifat kooperatif, bukan kompetitif. Oleh
karena itu keberhasilan belajar adalah keberhasilan kelompok. Menurut Teori
Motivasi, tujuan belajar kooperatif adalah untuk menciptakan suatu situasi
dimana keberhasilan dapat tercapai bila siswa lain juga mencapai tujuan tersebut.
Beberapa ciri pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut.
Ada lima prinsip mendasari pembelajaran kooperatif,
yaitu:
1) positive interdependence:
saling tergantung secara positif, artinya anggota kelompok menyadari bahwa
mereka perlu bekerja sama untuk mencapai tujuan.
2)
Face to face interaction: semua anggota berinteraksi dengan saling berhadapan.
3) Individual accountability:
setiap anggota harus belajar dan menyumbang demi pekerjaan dan keberhasilan
kelompok.
4) Use of collaborative/social
skills: keterampilan bekerjasama dan bersosialisasi diperlukan, untuk ini
diperlukan bimbingan guru agar siswa dapat berkolaborasi.
5)
Group processing: siswa perlu menilai bagimana mereka bekerjasecara efektif.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam CL:
- Hasil kerja adalah hasil kelompok.
- Penghargaan adalah untuk kelompok bukan untuk
perorangan.
- Setiap anggota mempunyai peran/tugas yang merupakan
bagian dari tugas kelompok.
- Antar anggota saling memberi dorongan dan saling
membantu.
- Guru memberi feedback untuk kelompok. Semua anggota
kelompok bertanggung jawab atas tugas kelompoknya.
Pembelajaran
kooperatif dapat dilaksanakan dalam semua matapelajaran atau bidang studi baik
untuk pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi. Ada beberapa macam
CL, tiga diantaranya yang sering dilakukan adalah 1) Think-Pair-Share; 2)
Think-Pair-Square; dan 3) Expert Group. Sebenarnya tujuan umum ketiga CL ini
hampir sama yaitu meningkatkan kualitas pembelajaran antara lain melalui
kegiatan wawancara, diskusi, tanya jawab yang membuat siswa berpikir dan berinteraksi
lebih banyak.
4. Problem Based Learning (pembelajaran berbasis masalah)
Problem-based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran
atau metoda mengajar yang fokusnya pada siswa dengan mengarahkan siswa menjadi
pebelajar mandiri yang terlibat langsung secara aktif terlibat dalam
pembelajaran berkelompok. PBL membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan
mereka dalam memberikan alasan dan berpikir ketika mereka mencari data atau
informasi agar mendapatkan solusi untuk suatu masalah yang otentik.
Pada umumnya siswa sudah sering diperkenalkan dengan keterampilan
keterampilan pemecahan masalah atau problem-solving skills seperti membuat tabulasi,
menyusun daftar, menghitung persentase, dsb. Biasanya para guru mengaplikasikan
strategi “problem solving” ini untuk menyelesaikan soal-soal yang berkenaan dengan
pokok bahasan mata pelajarannya. Selain itu, siswa menggunakan
keterapilan-keterampilan ini di dalam kelas untuk memecahkan masalah rutin yang
biasanya diarahkan oleh guru. Siswa kurang atau tidak menggunakan keterampilan
mereka di luar kelas untuk memecahkan masalah kehidupan nyata milik mereka
sendiri. Sedangkan PBL lebih menjurus pada pemecahan suatu masalah kehidupan
nyata yang mungkin dihadapi siswa dengan menggunakan keterampilan-keterampilan
“problem-solving”. Model pembelajaran ini biasanya berbentuk suatu proyek untuk
diselesaikan oleh sekelompok siswa yang harus bekerjasama (work collaboratively
in terms). Bila siswa memahami proses PBL dengan bimbingan guru, siswa bebas
untuk menentukan apa yang ingin mereka pelajari dan ingin diketahui. Banyak
macam strategi yang dapat dipakai untuk mengimplementasikan PBL, namun pada
dasarnya langkah-langkahnya sebagai berikut.
1. Siswa diberi suatu masalah.
2. Dalam kelompok-kelompok kecil, siswa mendiskusikan
masalah tersebut
dengan menggunakan pengetahuan yang telah mereka miliki,
serta
mengerjakan apa yang perlu diketahui. Bagian ini juga
mencakup membuat
pernyataan-pernyataan masalah dan membuat
hipotesa-hipotesa.
3. Kemudian siswa mencari data tentang hal-hal yang
diperlukan atau
informasi yang belum ada.
4. Siswa berkumpul kembali dengan kelompoknya untuk
melaporkan apa saja
yang telah mereka pelajari.
5. Langkah-langkah ini akan berulang beberapa kali,
berdiskusi, mencari
informasi, melaporkan ke kelompok, diskusi lagi sampai
kelompok
mendapatkan solusinya.
6. Kegiatan akhir merupakan kegiatan diskusi penutup,
yaitu bila informasi
yang mereka pelajari dan proses telah sampai pada suatu
solusi.
Dalam proses pelaksanaan siswa memanfaatkan berbagai
sumber (perpustakaan, brosur, dll). Untuk mengukur pemerolehan belajar dan
kemajuan kelompok siswa berbagai bentuk asesmen dilakukan. Setiap proyek
refleksinya yang menggambarkan apa yang telah dipelajari siswa.
PBL biasanya memerlukan waktu banyak, misalnya bisa
sampai 4—6 minggu. Walaupun PBL memerlukan banyak waktu, pembelajaran ini jelas
sangat membantu siswa untuk memeperbaiki dan meningkatkan keterampilan dan
kemampuan siswa. Dalam proses panjang pencarian informasi mereka belajar dan
saling membantu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar