Minggu, 27 November 2016

jenis - jenis pembelajaran

Dikutip dari sumber : PLPG 2015 (Suyanto : 2008)

JENIS – JENIS METODE PEMBELAJARAN

1.      CTL (contextual teching and learning)
Pembelajaran kontekstual atau CTL merupakan salah satu topik yang selalu hangat dibicarakan di dunia pendidikan. Pada tahun 1983 ada suatu reformasi pendidikan di Amerika Serikat yang diketahui adanya suatu penurunan kualitas hasil belajar. Reformasi ini diikuti dengan suatu pertemuan tingkat tinggi tentang pendidikan. Pertemuan pendidikan ini bersifat nasional dan dihadiri oleh para gubernur negara bagian dan presiden USA. Peserta pertemuan sepakat untuk dapat memperbaiki kualitas pendidikan dengan upaya agar tercapai tahun 2000. Beberapa perguruan tinggi bekerja sama dengan guru di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan suatu sistem pembelajaran yang mereka sebut sebagai “Contextual Teaching and Learning” atau CTL.
Pembelajaran kontekstual secara resmi diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun 2001 ketika Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama mengirim sejumlah guru (90 orang) mengikuti “Short Fellowship Training” di University of Washington, USA pada akhir 2001 dan awal 2002. Guru-guru tersebut adalah guru SMP pengajar bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika, Fisika dan Biologi dari Propinsi Sulawesi Utara, Tengah dan Tenggara, Propinsi Gorontalo, Kalimantan Timur dan Selatan.
Selama 1 (satu) bulan guru-guru tersebut mengikuti perkuliahan, lokakarya dan kunjungan lapangan (sekolah-sekolah). Setelah pelatihan selesai mereka tinggal di Surabaya guru matapelajaran Biologi, Matematika dan Fisika. Sedangkan guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dilatih lagi di Malang selama sebulan. Mereka menyusun persiapan mengajar dan usulan kegiatan berupa usulan atau program pelatihan guru di propinsi masing-masing. Pada tahun 2002 dilakukan uji coba CTL di 31 SLTP/MTs yang tersebar di enam propinsi cakupan proyek di bawah Direktorat PLP. Dari hasil uji coba terindikasi pembelajaran CTL mampu meningkatkan interaksi belajar di kelas, membuat siswa lebih termotivasi dalam belajar dan siswa lebih bisa berfikir kritis. Oleh karena itu telah diambil kebijakan untuk meluaskan penerapan CTL di sekolah-sekolah rintisan yang tersebar di seluruh Indonesia. Saat ini ada sekitar 1000 (seribu) sekolah yang telah menggunakan pendekatan CTL.

Terdapat beberapa komponen dalam pembelajaran CTL, antara lain :
a)      Konstruktivisme
Membangun pemahaman sendiri dan pengalaman-pengalaman berdasarkan pengalaman awal.
b)     Inquiri.
Kegiatan yang diawali dengan kegiatan pengamatan dalam rangka untuk memahami suatu konsep.
c)      Bertanya.
Peserta didik di tuntut untuk bertanya setelah melakukan pengamatan dan menarik kesimpulan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan.
d)     Pemodelan.
Menarik kesimpulan tentang model pembelajaran yang telah dilaksanakan pada tiap pertemuan.
e)      Komuitas belajar.
Peserta didik membuat kelompok belajar dengan tujuan untuk berdiskusi tentang materi pelajaran.
f)       Penilaian otentik.
Mengukur pengetahuan peserta didik dengan memberikan tugas-tugas dan latihan soal.
g)      Refleksi.
Mengkaji proses seluruh kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

2.      PAKEM
PAKEM adalah pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan yang mulanya merupakan pembelajaran yang semula dicanangkan di TK dan SD. Dengan adanya krisis ekonomi beserta segala dampaknya maka desentralisasi atau otonomi daerah menuntut adanya mutu pendidikan yang kompetitive. Salah satu upaya dalam otonomi ini adalah perlunya perbaikan pada pendidikan awal ini di daerah masing-masing. Pembelajaran di TK dan SD yang aktif dan kreatif menuntut banyak kegiatan praktek dan siswa perlu bekerja dalam tim. Dengan kegiatan praktek dan bekerja dengan anggota tim berarti siswa melakukan interaksi sosial. Apalagi bila program pendidikan tersebut memanfaatkan lingkungan sekitar, siswa akan mengenal lingkungannya dan dapat menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan dunia nyata. Oleh karena itu perlu ada keseimbangan pembelajaran sebaiknya dilaksanakan di dalam dan di luar kelas. Pembelajaran untuk anak usia TK dan SD perlu diperhatikan logika, praktika dan estetika. Untuk itu penggunaan multimedia akan menunjang keberhasilan belajar. Komponen utama PAKEM antara lain tersedianya kurikulum dengan perangkatnya, sarana dan prasaraa yang cukup. Selain itu ada sumber daya manusia yang cukup profesional dan sistem manajemen yang baik. Standarisasi mutu pendidikan dilakukan secara berkelanjutan untuk menghadapi tuntutan lokal, nasional dan global.
Pada saat ini banyak sekolah dasar yang telah melaksanakan PAKEM, antara lain sekolah yang TK-SD nya satu atap atau satu lokasi. Dengan adanya TK menjadi satu atap dengan SD berarti juga dapat menaikkan layanan pendidikan. Jumlah TK-SD nya satu atap sudah lebih dari 1000 TK-SD. Pembelajaran yang memiliki berbagai macam kegiatan yang kreatif dan efektif serta merupakan sekolah percontohan yang juga disebut sebagai SD Rujukan, SD Model, dan Sekolah Dasar Koalisi.
Dalam kenyataannya PAKEM tidak hanya untuk pendidikan awal, karakteristik yang ada dalam pembelajaran ini juga tercakup dalam model pembelajaran di tingkat menengah dan tinggi. Ciri-ciri umum dari pembelajaran yang baik berlaku untuk semua jenjang dan semua bidang studi. Dalam pelaksanaannya kita memiliki dan memilah mana yang cocok untuk matapelajaran kita dan sesuai dengan kebutuhan saat itu berdasarkan tujuan untuk mencapai kompetensi atau keterampilan apa. Model pembelajaran yang bercirikan PAKEM adalah pembelajaran yang mendorong peserta didik aktif secara fisik, sosial dan mental untuk dapat
memahami dan mengembangkan kecakapan hidup. Pembelajaran ini menuntut guru dan siswa untuk aktif.
Guru aktif:
• memantau kegiatan belajar siswa
• memberi umpan balik sesuai kebutuhan
• mengajukan pertanyaan yang menantang dan membuat siswa berpikir
• mempertanyakan gagasan siswa dengan mengemukakan alasan.
Adapun siswa aktif bila bisa:
• membangun konsep dan apa yang sudah diketahui
• bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami
• mengemukakan gagasan sendiri atau kelompok
• mempertanyakan gagasan baru

• melakukan kegiatan yang ada hubungannya dengan pokok bahasan yang ada
Pembelajaran ini, perlu guru yang kreatif, antara lain dapat:
• mengembangkan kegiatan yang menarik dan bervariasi
• membuat alat bantu belajar disamping alat yang sudah ada
• memanfaatkan lingkungan untuk dikaitkan dengan bahan ajar/ilmu yang didapat dalam kelas.
Sedangkan siswa yang kreatif adalah siswa yang dapat
• merancang/membuat sesuatu secara mandiri atau kelompok
• menulis/mengarang atau melaporkan apa yang dihasilkan sebagai pemerolehan belajar yang dikembangkan.
Pembelajaran ini efektif bila dapat mencapaikan potensi yang telah dirumuskan atau mencapai tujuan pembelajaran dan siswa memperoleh atau mencapai kompetensi yang diharapkan. Pembelajaran yang menyenangkan, tidak membuat anak takut:
· takut salah
· takut ditertawakan
· takut dianggap sepele
Pembelajaran menyenangkan bila pembelajaran membuat anak:
* berani mencoba/berbuat sesuatu yang sesuai keinginan;
* berani bertanya bila kurang paham atau ingin tahu lebih banyak;
* berani mengemukakan pendapat/ gagasan, serta
* berani mempertanyakan gagasan orang lain.


3.      Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)
Cooperative learning (CL) atau pembelajaran kooperatif membuat siswa yang bekerja dalam kelompok akan belajar lebih banyak dibandingkan dengan siswa yang kelasnya dikelola secara tradisional. Kelough & Kelough (1999) mendefinisikan cooperative learning sebagai suatu macam strategi pembelajaran secara berkelompok, siswa belajar bersama dan saling membantu dalam membuat tugas dengan penekanan pada saling support diantara anggota.
Pembelajaran bersifat kooperatif, bukan kompetitif. Oleh karena itu keberhasilan belajar adalah keberhasilan kelompok. Menurut Teori Motivasi, tujuan belajar kooperatif adalah untuk menciptakan suatu situasi dimana keberhasilan dapat tercapai bila siswa lain juga mencapai tujuan tersebut. Beberapa ciri pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut.
Ada lima prinsip mendasari pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) positive interdependence: saling tergantung secara positif, artinya anggota kelompok menyadari bahwa mereka perlu bekerja sama untuk mencapai tujuan.
2) Face to face interaction: semua anggota berinteraksi dengan saling berhadapan.
3) Individual accountability: setiap anggota harus belajar dan menyumbang demi pekerjaan dan keberhasilan kelompok.
4) Use of collaborative/social skills: keterampilan bekerjasama dan bersosialisasi diperlukan, untuk ini diperlukan bimbingan guru agar siswa dapat berkolaborasi.
5) Group processing: siswa perlu menilai bagimana mereka bekerjasecara efektif.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam CL:
- Hasil kerja adalah hasil kelompok.
- Penghargaan adalah untuk kelompok bukan untuk perorangan.
- Setiap anggota mempunyai peran/tugas yang merupakan bagian dari tugas kelompok.
- Antar anggota saling memberi dorongan dan saling membantu.
- Guru memberi feedback untuk kelompok. Semua anggota kelompok bertanggung jawab atas tugas kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif dapat dilaksanakan dalam semua matapelajaran atau bidang studi baik untuk pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi. Ada beberapa macam CL, tiga diantaranya yang sering dilakukan adalah 1) Think-Pair-Share; 2) Think-Pair-Square; dan 3) Expert Group. Sebenarnya tujuan umum ketiga CL ini hampir sama yaitu meningkatkan kualitas pembelajaran antara lain melalui kegiatan wawancara, diskusi, tanya jawab yang membuat siswa berpikir dan berinteraksi lebih banyak.

4.      Problem Based Learning (pembelajaran berbasis masalah)
Problem-based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran atau metoda mengajar yang fokusnya pada siswa dengan mengarahkan siswa menjadi pebelajar mandiri yang terlibat langsung secara aktif terlibat dalam pembelajaran berkelompok. PBL membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan mereka dalam memberikan alasan dan berpikir ketika mereka mencari data atau informasi agar mendapatkan solusi untuk suatu masalah yang otentik.
Pada umumnya siswa sudah sering diperkenalkan dengan keterampilan keterampilan pemecahan masalah atau problem-solving skills seperti membuat tabulasi, menyusun daftar, menghitung persentase, dsb. Biasanya para guru mengaplikasikan strategi “problem solving” ini untuk menyelesaikan soal-soal yang berkenaan dengan pokok bahasan mata pelajarannya. Selain itu, siswa menggunakan keterapilan-keterampilan ini di dalam kelas untuk memecahkan masalah rutin yang biasanya diarahkan oleh guru. Siswa kurang atau tidak menggunakan keterampilan mereka di luar kelas untuk memecahkan masalah kehidupan nyata milik mereka sendiri. Sedangkan PBL lebih menjurus pada pemecahan suatu masalah kehidupan nyata yang mungkin dihadapi siswa dengan menggunakan keterampilan-keterampilan “problem-solving”. Model pembelajaran ini biasanya berbentuk suatu proyek untuk diselesaikan oleh sekelompok siswa yang harus bekerjasama (work collaboratively in terms). Bila siswa memahami proses PBL dengan bimbingan guru, siswa bebas untuk menentukan apa yang ingin mereka pelajari dan ingin diketahui. Banyak macam strategi yang dapat dipakai untuk mengimplementasikan PBL, namun pada dasarnya langkah-langkahnya sebagai berikut.
1. Siswa diberi suatu masalah.
2. Dalam kelompok-kelompok kecil, siswa mendiskusikan masalah tersebut
dengan menggunakan pengetahuan yang telah mereka miliki, serta
mengerjakan apa yang perlu diketahui. Bagian ini juga mencakup membuat
pernyataan-pernyataan masalah dan membuat hipotesa-hipotesa.
3. Kemudian siswa mencari data tentang hal-hal yang diperlukan atau
informasi yang belum ada.
4. Siswa berkumpul kembali dengan kelompoknya untuk melaporkan apa saja
yang telah mereka pelajari.
5. Langkah-langkah ini akan berulang beberapa kali, berdiskusi, mencari
informasi, melaporkan ke kelompok, diskusi lagi sampai kelompok
mendapatkan solusinya.
6. Kegiatan akhir merupakan kegiatan diskusi penutup, yaitu bila informasi
yang mereka pelajari dan proses telah sampai pada suatu solusi.
Dalam proses pelaksanaan siswa memanfaatkan berbagai sumber (perpustakaan, brosur, dll). Untuk mengukur pemerolehan belajar dan kemajuan kelompok siswa berbagai bentuk asesmen dilakukan. Setiap proyek refleksinya yang menggambarkan apa yang telah dipelajari siswa.
PBL biasanya memerlukan waktu banyak, misalnya bisa sampai 4—6 minggu. Walaupun PBL memerlukan banyak waktu, pembelajaran ini jelas sangat membantu siswa untuk memeperbaiki dan meningkatkan keterampilan dan kemampuan siswa. Dalam proses panjang pencarian informasi mereka belajar dan saling membantu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar